Yogyakarta, 28 Oktober 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, BPC HIPMI Kota Yogyakarta melalui kolaborasi Bidang VII (Pertanian, Kehutanan, dan Kelautan) serta Bidang XI (Ekonomi Kreatif, Koperasi, dan UMKM) menggelar kegiatan bertajuk “Youngsters Agri Talk”.
Mengusung tema 🌾 “Nasi dan Sayurmu Bukan Hasil Download” 🌾, acara ini menjadi ruang diskusi inspiratif yang menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian modern sebagai salah satu pilar kemandirian ekonomi nasional.
Acara yang berlangsung di Yogyakarta ini menghadirkan dua narasumber muda yang berpengaruh di dunia agribisnis, yaitu Anjar Wahyu Nugraha, Duta Petani Andalan dari Kementerian Pertanian, dan Ahmad Ardan Ardiyanto, Direktur Dewaponik sekaligus pelaku usaha pertanian urban. Keduanya berbagi pengalaman sekaligus membuka wawasan peserta mengenai potensi besar sektor agrikultur jika digarap dengan semangat kewirausahaan dan sentuhan teknologi.
Dalam pemaparannya, Anjar Wahyu Nugraha menegaskan bahwa isu regenerasi petani kini menjadi perhatian serius bangsa.
“Jika regenerasi petani gagal, Indonesia bukan hanya kehilangan pelaku usaha di sektor pangan, tapi juga kehilangan kendali atas kedaulatan pangannya sendiri,” ujarnya.
Ia mengajak anak muda untuk tidak memandang profesi petani sebagai pilihan kecil atau kuno, melainkan sebagai tanggung jawab besar menjaga masa depan bangsa.
Sementara itu, Ahmad Ardan Ardiyanto menekankan bahwa pertanian modern tidak bisa hanya dibicarakan di ruang digital, melainkan harus dibumikan di lapangan.
“Teknologi memang penting, tapi ia hanyalah alat bantu. Intinya tetap pada kemauan untuk turun ke lahan, belajar dari akar rumput, dan memberi inovasi nyata,” ungkap Ardan.
Ia mencontohkan bagaimana penerapan sistem hidroponik dan pertanian vertikal kini menjadi solusi di tengah keterbatasan lahan perkotaan, tanpa kehilangan esensi kerja keras dan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan Youngsters Agri Talk ini tidak hanya dihadiri oleh anggota HIPMI, tetapi juga mahasiswa dan komunitas wirausaha muda di Yogyakarta yang memiliki minat pada sektor agribisnis. Diskusi berjalan interaktif dengan berbagai pertanyaan seputar peluang bisnis di bidang pertanian, strategi membangun ekosistem agritech, hingga tantangan pemasaran produk pertanian di era digital.
Menurut perwakilan panitia, acara ini menjadi bagian dari upaya HIPMI Kota Yogyakarta dalam mendorong generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai ruang ekonomi yang potensial dan bernilai strategis. Melalui kolaborasi lintas bidang, HIPMI Jogja ingin menghadirkan semangat baru bahwa pertanian adalah wirausaha masa depan yang berkelanjutan dan berdampak sosial.
Youngsters Agri Talk menjadi refleksi nyata bahwa pembangunan ekonomi bangsa tidak hanya bertumpu pada sektor industri dan digital, tetapi juga pada kekuatan pangan dan pertanian.
Sebagaimana pesan dari kedua narasumber, masa depan pangan tidak bisa diunduh, tetapi harus diciptakan — lewat aksi nyata, inovasi, dan kolaborasi anak muda.
Dengan semangat kolaboratif dan berdampak, HIPMI Kota Yogyakarta terus berkomitmen menghadirkan ruang-ruang dialog dan aksi yang membangun kesadaran wirausaha di berbagai sektor, termasuk agrikultur sebagai salah satu fondasi kemandirian ekonomi nasional.
